Kamis, 05 Mei 2011

Latihan Dasar Kepemimpinan S3CB 2011

Sesuai dengan tradisi dan kebutuhan yang ada, setelah menjalani hampir satu tahun program pelatihan TFT, para peserta akan menjalani kegiatan LDK.

Tujuan dari kegiatan ini adalah :

a. Menyadari dan mengetahui potensi atau talenta pribadi sebagai sumber kekuatan kelompok.
b. Membangun kebersamaan, keterbukaan, kepercayaan, dan kekompakan kelompok (team building)
c.  Membangun motivasi dan visi bersama (visioning) untuk bersama-sama mengembangakn talenta yang ada
d.  Membentuk pengurus baru SMAK 3 Character Building periode 2011 – 2012
 
Kegiatan ini bukan merupakan akhir, melainkan merupakan awal yang baru bagi setiap peserta. Karena kini, mereka bukan lagi peserta. Melainkan bagian dari keluarga besar S3CB. Nantikan liputan kami mengenai kegiatan ini. See you!

Peralatan untuk LDK S3CB 2011

Daftar barang yang perlu dibawa :

  1. Alkitab
  2. Baju Ganti
  3. Peralatan Mandi
  4. Peralatan Makan (Gelas, Sendok, dkk)
  5. Obat - Obatan Pribadi
  6. Sweter / Jaket (terutama yang tidak tahan dingin)
  7. Alat tulis
  8. Penutup mata
  9. Snack / Makanan ringan (Terutama yang maag)
  10. Alas tidur / Sleeping bag (Jika merasa perlu)

Catatan : Wajib bersepatu, Baju hari kedua (minggu) wajib berkerah, celana panjang (Wajib selalu).

Rabu, 28 Juli 2010

Hasil Lomba HUT ke-60 BPK PENABUR


Selamat dan sukses atas keberhasilan Ibu Dra. Ary Widi Kristiani dalam meraih Juara Membuat Modul Ajar dari Rumpun IPS  yang diadakan oleh BPK PENABUR Jakarta dalam rangka HUT ke-60 BPK PENABUR.

Dra. Ary Widi Kristiani


Tetap semangat berkarya, Tuhan Yesus memberkati.


 Sumber : BPK PENABUR ONLINE

Minggu, 16 Mei 2010

Kasih Kepada Orang Tua (Pohon Mangga dan Manusia)

Ada sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun. Seorang anak kecil sangat senang bermain di pohon mangga setiap harinya. Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya. Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun. Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.

Waktu berlalu dengan cepatnya. Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Dia tidak lagi suka bermain-main dan tentunya jarang mendatangi pohon mangga itu.

Sampai suatu hari si remaja menghampiri pohon mangga dengan wajah muram. Pohon mangga menyambutnya dengan gembira:
"Mari bermain seperti dahulu".
"Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang bermain".
"Lalu apa masalahmu. Katakanlah, mungkin saya dapat menolongmu," pohon mangga membujuk.
"Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu untuk menghibur kekasihku," si remaja ini mengutarakan kemusykilannya.
"Oh, itu mudah, petiklah buahku, kemudian juallah untuk memperoleh uang. Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".

Si remaja itu bangkit semangatnya. Dipetiknya buah mangga itu sampai tak bersisa. Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan si remaja itu dari kesusahannya.

Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon mangga memanggilnya untuk bermain.
"Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa, telah beristeri,"
ujar remaja yang telah dewasa itu.
"Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi," kata pohon mangga. "Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal". Belum sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela:
"O, mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku, cukuplah itu untuk mendirikan rumah. Pemuda itu lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak, hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun. Tumbuh tidak, matipun tidak.

Waktu berlalu, datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah menjadi tonggak.
"Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu. Saya sudah menjelang manula. Aku ingin menikmati hari tua, berlayar di danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?"
"Tebanglah batangku pada pangkalnya, buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.

Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, hanya tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah.
Musim dan tahun berganti. Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang kembali. Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya berbantalkan akar pohon mangga.

Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika kecil kita senang bermain dengan mereka. Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya datang bila dianggap perlu. Padahal bagaimanapun keadaan mereka, orang tua tetap akan memberikan segalanya kepada kita. Selayaknyalah kita mendoakan kedua orang tua kita